CODEX2000

Mengobati Penyakit Cinta Ketenaran

leave a comment »

Oleh : Junni AD
Sumber : OASE
edisi 36/2010 
Hendaknya setiap orang yang tersohor (dengan kebaikan) atau termasuk orang yang terpandang untuk selalu merendahkan dirinya di antara manusia dan menampakkan hal itu. Bukan malah untuk semakin naik derajatnya di hadapan manusia, namun agar semakin terangkat derajatnya di hadapan Allah. Ini semua kembali kepada keikhlasan. Sebab, diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia namun agar tersohor. Dan ini adalah termasuk (tipuan) syaitan.Dan diantara manusia ada yang merendahkan dirinya dihadapan manusia dan Allah mengetahui hatinya bahwasanya ia benar dengan sikapnya itu. Ia takut pertemuan dengan Allah. Ia takut hari dimana dibalas apa-apa yang terdapat dalam dada-dada. Hari dimana nampak apa yang ada disimpan di hati. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah dan mereka tidak bisa menyembunyikan pembicaraan mereka dihadapan Allah.Ini adalah pelajaran yang berharga bagi setiap yang dipanuti dan yang mengikuti. Adapun pengikut, maka hendaknya ia tahu bahwa orang yang diikutinya itu tidak boleh diagungkan, namun hanyalah diambil faedah darinya berupa syariat Allah atau faedah yang diambil oleh masyarakat. Karena yang diagungkan hanyalah Allah kemudian Rasulullah. Adapun manusia yang lain maka jika mereka baik, maka bagi mereka rasa cinta pada diri kita. Dan hendaknya orang yang tersohor selalu takut, merendah dan mengingat dosa-dosanya, mengingat bahwa ia akan beridiri dihadapan Allah, ingat bahwasanya ia bukanlah orang yang berhak diikuti oleh dua orang dibelakangnnya.Oleh karena itu tatkala Abu Bakar dipuji dihadapan manusia maka ia berkutbah setelah itu dan riwayat ini shahih sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahamad dan lainnya ia berkata : “Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka persangkakan dan ampunkanlah apa-apa yang mereka tidak ketahui”.Abu Bakar mengucapkan doa ini dengan keras untuk mengingatkan manusia bahwasanya ia memiliki dosa sehingga mereka tidak berlebih-lebihan kepadanya. Apakah hal ini sebagaimana yang kita lihat pada kenyataan dimana orang yang diagungkan semakin menjadi-jadi agar diagungkan dirinya? Orang yang mengagungkan juga semakin mengagungkan orang yang diikutinya?Ini bukanlah jalan para sahabat radhiallhu’anhum. Umar terkadang ujub pada dirinya dan dia adalah seorang khalifah, orang kedua yang dikabarkan dengan jaminan masuk surga setelah Abu Bakar, maka iapun memikul suatu barang ditengah pasar untuk merendahkan dirinya hingga Ia tidak merasa dirinya besar.Diantara kesalahan-kesalahan adalah sifat ujub (takjub dengan diri sendiri), yaitu seseorang memandang dirinya wah (hebat). Ada diantara salafus shalih yang jika hendak menyampaikan suatu (mau’idzoh) dan jika ia melihat orang-orang berkumpul maka iapun meninggalkan majelis tersebut. Kenapa ? karena keselamatan jiwanya lebih diutamakan dibandingkan keselamatan jiwa orang lain. Karena ia melihat ramainya orang yang telah berkumpul dan ia menyadari bahwa dirinya mulai merasakan bahwa dirinya senang karena kehadiran mereka, yang diam memperhatikannya. Maka iapun mengobati dirinya dengan meninggalkan mereka maka merekapun membicarakannya akibat hal tersebut. Namun yang paling penting adalah keselamatan jiwa dan hatinya di hadapan Allah. Dan keselamatan hatinya lebih utama dibandingkan keselamatan hati orang lain.Sungguh benar sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya riya itu samar, sehingga terkadang menimpa seseorang padahal ia menyangka bahwa ia telah melakukan yang sebaik-baiknya. Dikisahkan, bahwasanya ada seseorang yang selalu sholat berjama’ah di shaf yang pertama, namun pada suatu hari ia terlambat sehingga sholat di shaf yang kedua. Ia pun merasa malu kepada jamaah yag lain yang melihatnya sholat di shaf yang kedua. Maka tatkalah itu ia sadar bahwasanya selama ini senangnya hatinya, tenang hatinya tatkalah orang di shaf yang pertama adalah karena pandangan manusia. (Tazkiyatun Nufus hal 15)Berkata Abu ‘Abdillah Al-Anthoki, “Fudhail bin ‘Iyadh bertemu dengan Sufyan Ats-Tsauri lalu mereka berdua saling mengingat (Allah) maka luluhlah hati Sufyan atau ia menangis. Kemudian Sufyan berkata kepada Fudhail, “Wahai Abu ‘Ali sesungguhnya aku sangat berharap majelis (pertemuan) kita ini rahmat dan berkah bagi kita”, lalu Fudhail berkata kepadanya, “Namun aku, wahai Abu Abdillah, takut jangan sampai majelis ini adalah majelis yang mencelakakan kita “, Sufyan berkata, “Kenapa wahai Abu Ali?”, Fudhail berkata, “Bukankah engkau telah memilih perkataanmu yang terbaik lalu engkau menyampaikannya kepadaku, dan akupun telah memilih perkataanku yang terbaik lalu aku sampaikan kepadamu, berarti engkau telah berhias untuk aku dan akupun telah berhias untukmu”, lalu Sufyan pun menangis dengan lebih keras daripada tangisan yang pertama dan berkata, “Engkau telah menghidupkan aku semoga Allah menghidupkanmu”. (Tarikh Ad-Dimasyq 48/404).Sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beruntung yang memperhatikan gerak-gerik hatinya, yang selalu memperhatikan niatnya. Terlalu banyak orang yang lalai dari hal ini kecuali yang diberi taufik oleh Allah. Orang-orang yang lalai akan memandang kebaikan-kebaikan mereka pada hari kiamat menjadi kejelekan-kejelekan. Semoga Allah memelihara iman kita semua dan shalawat serta salam tetap tercurahkan pada Nabi Muhammad SAW

Posted with WordPress for BlackBerry.

Written by CODEX2000

19 Oktober 2010 pada 20:11

Ditulis dalam Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: