CODEX2000

100 Hari Kabinet SBY

leave a comment »

Oleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI dan Sekjen PP AIPI

Apakah program 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berlangsung sukses? Kalaupun harus diberi nilai seperti halnya para siswa di sekolah, berapakah nilai yang pantas untuk kinerja pemerintah hasil Pemilu 2009 tersebut?

Jawaban atas pertanyaan semacam itu tentu bisa berbeda-beda bagi setiap pihak karena akan sangat tergantung pada “jarak” antara pihak-pihak yang memberikan penilaian itu sendiri. Pemerintah misalnya memuji sendiri prestasi yang dicapai para menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II dan bahkan memberi penilaian pencapaian rata-rata 90% atas program 100 hari kabinet.

Hal itu antara lain dikatakan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring dalam suatu diskusi di Jakarta akhir pekan lalu. Di sisi lain, jika penilaian itu diberikan oleh mereka yang cukup berjarak dengan kekuasaan, bisa jadi nilai rata-rata rapor KIB II masih berwarna “merah”.

Betapa tidak, meskipun para menteri memberikan klaim, misalnya Tifatul Sembiring, telah bekerja keras, fokus perhatian publik tentulah tertuju pada kinerja Presiden SBY selaku kepala pemerintahan sekaligus kepala negara. Dalam konteks sistem presidensial yang dianut bangsa kita, kinerja pemerintah pada dasarnya adalah totalitas kinerja Presiden dalam mewujudkan visi-misi sebagai calon presiden pada pemilu yang lalu.

Tolok Ukur
Penilaian jujur dan objektif atas kinerja 100 hari pemerintahan SBY tak mungkin dilakukan tanpa tolok ukur yang jelas. Persoalannya adalah bahwa pemerintah sendiri tidak memiliki target pencapaian yang jelas dari, misalnya, 15 program aksi 100 hari yang diumumkan Presiden SBY pada tanggal 5 November 2009. Sebagai contoh program pertama, pemberantasan mafia hukum.

Tidak ada target yang jelas, apakah program pemberantasan mafia hukum tersebut diselesaikan selama 100 hari pertama atau justru untuk lima tahun ke depan? Apabila targetnya untuk 100 hari pertama KIB II, jelas tidak masuk akal alias mustahil karena mafia hukum atau mafia peradilan telah berurat-berakar dalam struktur lembaga peradilan di negeri kita.

Contoh lain adalah program ke- 15, yaitu program sinergi antara pusat dan daerah. Program ini juga hampir mustahil bisa dicapai dalam 100 hari karena terkait dengan struktur pemerintahan daerah yang dianut UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Artinya, sinergi antara pusat dan daerah tidak mungkin terwujud tanpa didahului revisi atau perubahan atas UU Pemerintahan Daerah.

Karena itu agak mengherankan jika pemerintahan SBY memuji diri sendiri atas keberhasilan mewujudkan program-program aksi KIB II yang tolok ukurnya pun tidak jelas. Apalagi, selama 100 hari terakhir, Presiden SBY cenderung sibuk membela diri melalui berbagai pernyataan publik yang tidak perlu seperti merasa difitnah ataupun dizalimi tanpa pernah menjelaskan siapa yang memfitnah dan menzalimi jenderal kelahiran Pacitan tersebut.

Tanpa Kesan
Secara umum perjalanan 100 hari pemerintahan SBY dapat dikatakan tanpa kesan mendalam di hati publik. Alih-alih ada terobosan kebijakan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih, bebas korupsi, dan efektif, Presiden SBY justru masih sibuk membangun citra positif bagi diri dan pemerintahannya.

Ironisnya pembangunan citra tersebut tidak dilakukan melalui terobosan kebijakan, tetapi melalui pidato dan pernyataan yang tidak perlu sehingga menuai kritik publik yang luas. Betapa tidak, ketika Presiden SBY secara berapi-api berpidato tentang komitmennya menegakkan supremasi hukum dan keadilan, pada saat yang sama media menyodorkan fakta tentang Nenek Minah yang ditahan selama tiga bulan lantaran dituduh mencuri tiga biji kakao sehar-ga Rp. 2.100 (baca: dua ribu seratus rupiah).

Tatkala SBY mensinyalir adanya motif politik di balik gerakan antikorupsi memperingati Hari Antikorupsi Sedunia pada 9 Desember 2009, sekali lagi publik membuktikan bahwa tuduhan Presiden ternyata tidak benar. Demo dan unjuk rasa di kota-kota lain di Indonesia berlangsung tertib dan damai. Sinyalemen tanpa dasar itu akhirnya tak lebih dari sekadar “pidato” tanpa indikasi yang jelas, apalagi bukti yang nyata.

Sementara itu, dalam rangka memberantas mafia hukum, Presiden memilih membentuk lembaga ad hoc Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum ketimbang memperkuat dan mengefektifkan instansi kepolisian dan kejaksaan. Tak mengherankan jika muncul skeptisisme publik terhadap satgas yang dipimpin Kuntoro Mangkusubroto tersebut sehingga diragukan mampu memenuhi harapan SBY.

Kesuksesan Masyarakat Sipil
Apabila dilakukan penilaian secara jujur,yang menonjol selama 100 hari KIB II bukanlah prestasi pemerintah hasil Pemilu 2009, melainkan prestasi masyarakat sipil. Seperti diketahui, berbagai bentuk gerakan masyarakat sipil berhasil “menekan” Presiden agar membebaskan Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah, dua pimpinan KPK, yang ditahan karena kriminalisasi yang dilakukan instansi kepolisian dan kejaksaan.

Selain itu, berbagai elemen gerakan masyarakat juga berhasil mendesak DPR untuk mengajukan hak angket atas kebijakan penyelamatan Bank Century senilai Rp 6,7 triliun. Meski kesimpulan Pansus Angket hingga kini belum jelas, sekurang-kurangnya publik bisa menilai kemungkinan adanya persekongkolan kekuasaan di balik pemberian talangan atas bank gagal yang ternyata dirampok sang pemilik.

Oleh karena itu, klaim-klaim keberhasilan yang dikemukakan, baik oleh Presiden SBY maupun para menteri kabinet, sebenarnya tidak perlu. Biarlah penilaian dilakukan oleh masyarakat yang memberi mandat melalui pemilu. Kewajiban Presiden dan para menteri KIB II bukanlah membela diri, atau memuji diri sendiri, melainkan mengakui secara jujur bahwa pemerintah tidak bisa bekerja tanpa dukungan masyarakat.(*)

http://aipi.wordpress.com

Written by CODEX2000

28 Januari 2010 pada 20:09

Ditulis dalam Artikel, Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: