CODEX2000

Propaganda

leave a comment »

PROPAGANDA

Pengantar
“ Propaganda”, sebuah kata yang popular namun kini telah kehilangan maknanya karena tertutupi oleh stigma-stigma negatif yang melingkupi dirinya. Suatu hal yang umum ketika kata ”propaganda” terdengar atau terlihat maka kata tersebut tidak terlepas dari stigma negatif yang berkaitan dengan propaganda tersebut atau dipaksakan berkaitan karena pada suatu massa kata-kata tersebut sangat bertalian erat dengan propaganda, misalnya kata perang dunia, konspirasi politik, media, pemerintah, pembodohan masal, informasi yang salah, hingga mengacu ke kata fasisme, nazi bahkan sosialisme. Sulit rasanya menyandingkan propaganda dengan demokrasi, padahal diakui oleh pakar public relation, Edward L.Bernays bahwa propaganda adalah tujuan komunikasi dalam masyarakat yang berdemokrasi
Stigma yang negatif tentang propaganda tidak akan terbentuk tanpa adanya suatu rekayasa sosial, dan rekayasa sosial tanpa melanggar hak asasi manusia tidak akan terwujud tanpa adanya komunikasi persuasif untuk mempengaruhi masyarakat (audiens) yang menjadi targetnya. Inti dari komunikasi persuasif adalah propaganda, dengan demikian dapat dimungkinkan bahwa stigma negatif tentang propaganda merupakan produk dari propaganda itu sendiri.
Terlepas dari stigma negatif tersebut, makalah ini mencoba mengupas propaganda dari sisi ilmiah dengan berpijak pada literatur dan sejarah mengenai propaganda. Harapan penulis agar pembaca mendapatkan perspektif yang baru dari propaganda dengan demikian dapat menjadi bahan evaluasi dan pemberdayaan bagi pembaca dalam merefleksikan propaganda.

Definisi Propaganda

Apa itu propaganda ? secara umum propaganda di definisikan sebagai skema untuk mempropagandakan suatu doktrin atau tindakan kepada seseorang atau sekelompok orang yang disebarkan melalui kata-kata, suara, iklan komersil, musik, gambar dan simbol-simbol lainnya. Definisi lainnya yang dapat menjelaskan mengenai propaganda, dejelaskan secara rinci oleh James E.Combs dan Don Nimmo sebagai berikut :
1. ”Usaha yang disengaja dan sistematis…untuk mencapai respon yang lebih jauh lagi merupakan tujuan yang diinginkan oleh ahli propaganda”
2. ”Sebuah usaha untuk mempengaruhi opini dan tingkah laku”
3. ”Situasi propaganda yang tipikal adalah A melalui suatu metode atau metode lain yang berhubungan dengan B sehingga cendrung mempengaruhi tingkahlaku B”
4. ”Semua usaha yang membujuk setiap orang untuk kepercayaan atau untuk suatu bentuk tindakan”.
5. ”Usaha untuk mempengaruhi personalitas dan mengontrol tingkah laku individual menuju tujuan akhir yang dianggap tidak ilmiah atau nilainya meragukan dalam masyarakat pada waktu yang ditentukan”
R.A. Santoso yang telah mengutip lebih dari 10 pakar propaganda menyimpulkan bahwa propaganda merupakan suatu penyebaran pesan yang telah terencanakan secara seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat (opini) dan tingkah laku dari penerimanya/komunikan sesuai dengan pola yang ditentukan komunikator .
Dari definisi-definisi yang telah disebutkan diatas penulis mengambil beberapa kata sebagai kata kunci (key word) dalam propaganda yaitu penyebarluasan, pesan, mempengaruhi, pendapat, dan sesuatu yang telah direncanakan.
Kata menyebarluaskan atau penyebarluasan dalam definisi tersebut dapat mengandung pengertian ”menumbuhkembangkan”. Kata menyebarluaskan dapat juga berarti ”menyiarkan” atau ”mempublikasikan” yang merupakan sesuatu yang disengaja. Suatu kegiatan yang disengaja memerlukan suatu perencanaan dalam bentuk suatu pola atau skema yang sistematis. Sesuatu yang disebarluaskan disini adalah informasi yang mengandung suatu pesan dengan tujuan untuk mengubah pendapat (opini) orang yang menerimanya. Proses propaganda dapat digambarkan sebagai berikut :

Proses propaganda diatas diambil dari teori propaganda paling klasik yang disebut juga model retoris (rhetorical model) karya filusuf Aristoteles. Disini terdapat Pembicara (speker), pesan (message)dan pendengar (listener). Fokus propaganda yang ditelaah Aristoteles adalah model retorika yang lebih dikenal dengan seni berpidato.Setting dalam seni berpidato sebagai sarana persuasif untuk mempengaruhi pendengar.
Proses ini tidak jauh berbeda dengan teori komunikasi model schramm yang dapat digambarkan sebagai berikut :

Dari bagan proses tersebut terdapat kesamaan antara propaganda dan komunikasi yaitu adanya pemberi pesan (pembicara/encoder),pesan (message) dan penerima pesan (pendengar/decoder) akan tetapi ada perbedannya jika dilihat dari tanda panah bahwa propaganda bersifat satu arah sedangkan komunikasi bersifat dua arah. Propaganda menggunakan settinguntuk mempengaruhi pendengar sedangkan komunikasi terjadi secara alami. Namun demikian tidak ada komunikasi tanpa tujuan. Edward L Barnays mengatakan bahwa komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang dapat mempengaruhi pendengarnya sehingga pendengar dapat mengerti bahkan menyetujui pendapat pemberi komunikasi tersebut, menurut beliau dengan demikian dapat dikatakan bahwa propaganda merupakan tujuan dari komunikasi
Akhirnya terdapat 3 kekhususan/karakteristik yang khas dari propaganda yaitu (1)ia merupakan komunikasi yang disengaja dan dirancang untuk mengubah sikap orang yang menjadi sasaran.(2) ia menguntungkan bagi si pelakupropaganda untuk memajukan kepentingan orang yang dituju (inilah alasannya mengapa periklanan, humas, dan kampanye politik merupakan bentuk propaganda) dan (3) ia biasanya merupakan informasi satu arah berlawanan dengan pendidikanyang mempunyai dua arah dan interaktif.
Jika pendidikan bersifat dua arah, propaganda merupakan komunikasi satu arah. Dalam sudut pandang, jika pembelaan dari apa yang kita percaya adalah pendidikan, maka pembelaan dari apa yang kita jangan percaya adalah Propaganda.

Sejarah Propaganda
Propaganda secara essensi (komunikasi persuasif) mempunyai sejarah yang cukup panjang seiring dengan sejarah tulisan.Pada peradaban mesir kuno, para raja menciptakan piramida, sejarah mengenai, perkembangan kerajaan hingga kematian raja dituliskannya dengan menggunakan aksara hiroglif di dalam piramida tersebut. Tujuan pendirian dari pendirian piramida adalah untuk menunjukkan kekuasaan mereka.
Plato (429-347 SM) dalam filsafat Republica menyatakan bahwa penguasa berwenang untuk memberikan peraturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan penduduknyaagar penduduk tidak mendengar pandangan atau pendapat lain kecuali oandangan pemerintahnya
Aristoteles (384-322 SM) dalam Rhetorical mengkaji tata cara berretorika untuk mempengaruhi pendapat target yang ditujunya , Menurut Aristoteles, persuasif dapat dicapai oleh Siapa Anda (ethos-kepercayaan Anda), Argumen Anda (logos-logika dalam pendapat Anda) dan dengan memainkan emosi khalayak (Rhatos-emosi khalayak).
Propaganda dalam bahasa latin berarti ”berbagai hal untuk disebarkan”. Di tahun 1922, tak lama setelah perang 30 tahun, untuk pertama kalinya kata propaganda pertama kali digunakan. Sri Paus Gregory menggunakan istilah propaganda untuk menamakan panitia khusus tuk menyebarkan keyakinan. Panitia tersebut bernama Congregatio de Propaganda Fide (kelompok penyebar keyakinan). Tugas utama kelompok ini adalah menyebarkan doktrinasi katolik ke dalam negara-negara non-katolik ( wilayah misi).
Semenjak itu propaganda digunakan sebagai kata umum untuk menandakan suatu aktivitas menyebarkan sesuatu. Alasan Propaganda ada dan menjadi tersebar luas adalah karena propaganda melayani berbagai tujuan sosial, orang-orang yang membutuhkan, propaganda pada saat itu sangat populer namun berpotensi merusak. Banyak institusi seperti pemerintah dan medianya sendiri (propaganda-addicts),sangat bergantung satu dengan yang lainnya (co-dependent) dan saling mempengaruhi dalam suatu sistem propaganda yang mereka ciptakan dan pelihara. Propagandis mempunyai suatu keuntungan untuk terus mengetahui apa yang mereka inginkan untuk mempromosikan dan untuk siapa.
Richard Alan Nelson (1996) berpendapat, propaganda “secara netral digambarkan sebagai suatu format bujukan yang sistematis mencoba untuk mempengaruhi emosi, sikap, pendapat, dan tindakan pendengar yang ditetapkan untuk tujuan ideologis, yang komersil atau politis melalui transmisi yang yang dikendalikan dari pesan yang berat sebelah (mungkin tidak berdasarkan fakta) berkumpul dan mengarahkan saluruan media (media chanel). Suatu organisasi propaganda mempekerjakan propagandis -Orang yang terlibat dalam propaganda—dalam mendistribusikan dan menciptakan tujuan ke dalam format bujukan.”
Pada masa Perang baik Perang Dunia I maupun Perang Dunia ke II hingga Perang dingin, baik blok barat maupun blok timur menggunakan propaganda sebagai sarana persuasif bernuansa sangat politis untuk melumpuhkan lawan hingga membangkitkan semangat juang bangsa mereka. Setiap negara peserta perang dunia mendirikan departemen informasi, tujuannya tidak lain adalah untuk menyebarkan informasi yang salah untuk menakut-nakuti atau mengelabui musuh, mensensor informasi untuk warga negaranya, dan sebagai sarana untuk membangkitkan semangat warganya untuk beperang. Media yang digunakan adalam media massa, film, televisi, radio, selebaran-selebaran tidak resmi (pamflet, poster,dll), majalah dan buku. Inggris mendirikan Britain’s Foreign Office ) Information Research Department) dan BBC. Jerman menyebarkan propagandanya melalui radio nasionalnya. Mereka memperdengarkan pidato-pidato Hitler yang dengan pidato yang berapi-api mempengaruhi warganya untuk ikut berperang. Jepang dengan semboyan Fokoku Kyohei (Negara Kaya, Militer Kuat) sangat bersemangat untuk memenangkan perang dunia, Kaisar Mutshito melalui titahnya yang disebarkan melalui sebaran-sebaran resmi kenegaraan maupun melalui pejabat-pejabat kenegaraan, menyerukan seluruh rakyat Jepang untuk ikut berperang demi kejayaan negara. Rusia menggunakan istilah агитация (Agitasi) dan пропаганда (propaganda) untuk menyebarkan paham marxisnya. Amerika Serikat, negara yang mempunyai pengalaman propaganda puluhan tahun (hingga sekarang) mendirikan Institut for Propaganda Analysis, sebuah institusi untuk mempelajari propaganda dan mengembangkan propaganda. Untuk kebutuhan perang Amerika Serikat membentuk Office of War Information (OWI) untuk menyebarkan propaganda ke dalam negeri maupun luar negeri. OWI dibawah koordinasi Public Affair Department of United Stated yang berpusat di Washington DC. Untuk menghadapi Jerman, Amerika membentuk CPI (Committee for Public Information). CPI inilah yang kemudian menjadi embrio USIA (United Stated Information Agency) yang beroperasi dari tahun1947-2003. USIA banyak menghasilkan produk propaganda yang dikirim ke luar negeri dalam bentuk pos-pos diplomatik seperti United States Information Service (USIS) yang tersebar di seluruh Keduataan Besar AS di seluruh dunia, Fulbright Scholarship, Kunjungan Internasional dan siaran international Voice of America. Saat ini USIA telah bermetamorfosis menjadi International Information Program (IIP) dan USIS menjadi Information Resouce Center (IRC) yang berada di setiap Kedutaan Besar Amerika Serikat. IRC semakin mengembangkan sayapnya hingga ke wilayah-wilayah terpencil yaitu dengan mendirikan American Corner sebagai cabangnya.
Saat ini kata propaganda tidak lagi digunakan, kalaupun digunakan akan menimbulkan stigma yang negatif. Stigma-stigma negatif tersebut diciptakan agar propaganda terlupakan dan tidak lagi digunakan akan tetapi negara-negara pelopor propaganda tetap menggunakan propaganda secara essensi dan teknik. Amerika serikat contohnya, setelah berakhirnya Perang Dunia II dan menandai dimulainya perang dingin, USIA mengganti istilah propaganda dengan ”Public Diplomacy” (Diplomasi Publik)

Jenis-Jenis Propaganda
Propaganda dapat digolongkan menurut kealamiahan dan menurut sumber pesan yaitu White Propaganda, Grey Propaganda dan Black Propaganda.White Propaganda biasanya datang dari suatu sumber yang dikenali, dan ditandai oleh metoda bujukan lebih lemah lembut, seperti standar dan teknik Publik Relation dan presentasi berat sebelah dari suatu argumentasi . Tahun 1995, Amerika mempunyai lebih banyak profesional dalam humas (150.000) dibanding wartawan (130.000). Akademisi seperti Mark Dowie menaksir bahwa 40% atas apa yang kita anggap ”berita”dibuat oleh kantor humas.
Black Propaganda terkadang bersal dari sumber-sumber yang bersahabat, tetapi benar-benar dari suatu musuh. Black Propaganda ditandai oleh presentasinya tentang informasi sumbang/palsu untuk menimbulkan suatu tanggapan diinginkan, dan sering digunakan di dalam rahasia militer atau tempat berlindung operasi psikologis dan oleh jaringan organisasi besar seperti pemerintah atau jaringan teroris. Black Propaganda menggunakan berbagai macam media sebagai instrumennya mulai dari suat kabal, selebaran resmi atau tidak resmi, siaran radio hingga film produksi Holywood.
Grey Propaganda mungkin datang dari suatu iklan sumber menyatakan dirinya netral atau ramah, dan menghadirkan banyak informasi yang menyesatkan dalam suatu cara yang lebih tersembunyi/membahayakan dibanding white propaganda. Kalimat dari pgrey propaganda ini terkadang tidak logis atau tidak rasional. Tujuannya adalah sebagai upaya persuasif untuk menimbulkan efek emosional bagi target audiensnya.
Propaganda tidak berati informasi yang salah.Dalam skala, ini jenis propaganda yang berbeda dapat juga digambarkan sebagai kebenaran dan informasi yang akurat untuk bersaing dengan propaganda dengan propaganda yang menyesatkan. Sebagai contoh, oposisi White propaganda adalah sering ditemukan dan sering mendeskriditkan sumber propaganda. Oposisi Grey propaganda ketika diungkapkan dalam suatu sumber, menciptakan level tertentu dalam hingar bingar publik. Oposisi Black propaganda adalah sering tak tersedia dan mungkin berbahaya untuk mengungkapkan, sebab publik mengenal taktik dan sumber Black propaganda akan mengikis atau menyerang balik seluruh kampanye yang Blackpropagandis.

Teknik-Teknik Propaganda
Sejumlah teknik yang didasarkan pada riset psikologi sosial digunakan untuk menghasilkan propaganda. Mengidentifikasi pesan adalah suatu prasyarat yang perlu untuk belajar metode dan dengan cara apa pesan itu tersebar. Oleh karena itu sangat penting untuk mempunyai pengetahuan mendasar mengenai beberapa teknik yang digunakan untuk menciptakan propaganda:
1. Appeal to fear: Sebagai upaya untuk menimbulkan rasa takut. Tujuannya untuk membangun dukungan dengan menanamkan ketakutan di dalam populasi yang umum, sebagai contoh, Joseph Goebbels memanfaatkan Theodore Kaufman’S dari Jerman untuk mengakui bahwa Sekutu akan membasmi orang-orang Jerman
2. Appeal to Authority: Memperlihatkan kekuasaan dengan mengutip figur terkemuka untuk mendukung suatu gagasan posisi, argumentasi, atau tindakan.
3. Argumentum ad nauseam : menggunakan pengulangan (repetisi). Penyebaran suatu gagasan yang diulang-ulang sepanjang waktu, dan gagasan tersebut dinyatakan sebagai suatu kebenaran. media penyebaran terbaik ketika media lainnya sangat sedikit/terbatas dan dikontrol oleh propagator.
4. Black – and – white – fallacy Memperkenalkan hanya dua pilihan, dengan produk atau ide yang di sebarkan sebagai pilihan yang terbaik.(co: pilih mana, mesin yang tidak sehat atau menggunakan oli merek X)
5. Bandwagon (ikut-ikutan): Bandwagon dan inevitable-victory pendekatan usaha untuk membujuk target pendengar untuk mengambil keadaan tindakan yang ” everyone else is taking”
a. Join the crowd: Teknik ini menguatkan keinginan masyarakat secara alami untuk memengkan satu sisi. Teknik ini digunakan untuk meyakinkan pendengar bahwa suatu program adalah suatu ungkapan dari suatu gerakan massa yang tidak dapat bertahan dan yang terbaik bagi mereka adalah menggabungkan diri dengan gerakan tersebut.
b. Inevitable victory: mempengaruhi masyrakat untuk berpihak pada hal tertentu dan menegaskan itulah yang terbaik bagi mereka
6. Direct Order (pengarahan): teknik ini bertujuan untuk menyederhanakan proses pengambilan keputusan. Propagandis menggunakan kata-kata dan gambaran untuk menceritakan kepada pendengar mengenai tindakan apa yang harus diambil, menghapuskan berbagai pilihan yang memungkinkan. otoritas figur dapat digunakan untuk membantu mengarahkan, terlihat sedikit overlapping dengan yang terdapat dalam “Authority Technique”, tetapi ityu tidak penting. Paman Sam mengatakan” Aku ingin kamu” merupakan suatu contoh gambaran dari teknik ini.
7. Obtain disapproval (memperoleh penolakan): Teknik ini digunakan untuk membujuk suatu target pendengar untuk menyalahkan suatu gagasan atau tindakan dengan mengusulkan bahwa gagasan tersebut sangat terkenal untuk dibenci, menakutkan, atau menyimpan penghinaan terhadap target pendengar tersebut.Dengan begitu jika suatu kelompok mendukung suatu kebijakan tertentu didorong ke arah percaya bahwa yang tidak diinginkan, bersifat subversif, atau orang-orang tercela mendukung kebijakan yang sama, kemudian anggota kelompok boleh memutuskan untuk berubah posisi asli mereka.
8. Glittering generalities (sebutan yang muluk-muluk):Teknik ini merupakan kebalikan dari umpatan (name-calling) kalau dalam teknik umpatan digunakan kata-kata kasar dan berkonotasi negatif, maka dalam teknik sebutanmuluk-muluk kata-kata “gagah” berupa sanjungan-sanjungan yang berkonotasi positif. Kata-kata yang menyarankan kebajikan dan keagungan digunakan propagandis.
9. Rasionalization: kelompok atau Individu boleh menggunakan keadaan umum baik untuk merasionalkan kepercayaan atau tindakan yang diragukan. ungkapan menyenangkan yang samar-samar sering digunakan untuk membenarkan kepercayaan atau tindakan tersebut.
10. Intentional vagueness(Ketidakjelasan yang disengaja): Keadaan umum yang dengan bebas di samar-samar sedemikian rupa sehingga pendengar dapat menafsirkan sendiri. Intentional bermaksud untuk menggerakkan pendengar dengan menggunakan ungkapan tak tergambarkan, tanpa meneliti mencoba atau membenarkan mereka untuk menentukan aplikasi atau bebijaksanaan mereka. Tujuannya adalah untuk menyebabkan orang-orang untuk menggambarkan penafsiran mereka sendiri daripada hanya diberikan suatu gagasan tegas/eksplisit.Dalam usaha untuk ” menggambarkan” propaganda ini, pendengar membatalkan pertimbangan yang menyangkut gagasan yang dipresentasikan. Kebenaran mereka, aplikasi dan ketidakbijaksanaan tidaklah dipertimbangkan.
11. Transfer (Penyampaian): Juga dikenal sebagai asosiasi, ini adalah suatu teknik memproyeksikan suatu hal secara negatif atau positif atau negatif ( memuji atau menyalahkan) tentang seseorang, kesatuan, menolak, atau menghargai ( perorangan, kelompok, organisasi, bangsa, patriotisme, dll.) kepada kelompok lainnya dalam rangka membuat yang kedua menjadi lebih diterima atau untuk meragukan kelompok yang kedua itu.Hal tersebut menimbulkan suatu tanggapan emosional, yang merangsang target ke sama dengan mengenali otoritas.Terkadang intensitas penggammbarannya sangat tinggi, teknik ini sering menggunakan lambang ( sebagai contoh, Swastika digunakan di dalam Nazi Negara Jerman, yang semula suatu lambang untuk kemakmuran dan kesehatan) yang digambarkan dalam gambaran visual. Suatu contoh dari penggunaan yang umum dari teknik ini di dalam Amerika adalah untuk Presiden untuk difilmkan atau dipotret di depan bendera Amerika.
12. Penyederhanaan berlebih: Keadaan umum baik yang digunakan untuk menyediakan jawaban sederhana ke sosial, ekonomi yang kompleks, atau permasalahan militer.
13. Common man:”plain folks(pura-pura orang kecil)”atau common man adalah usaha pendekatan untuk meyakinkan pendengar bahwa posisi propagandis mencerminkan akal sehat menyangkut orang-orang. Hal tersebut dirancang untuk memenangkan kepercayaan dari pendengar dengan berkomunikasi di dalam gaya dan cara umum target pendengar. Propagandis menggunakan lagak dan bahasa biasa ( dan merekayasa pesan mereka ke dalam face-to-face (bahasa dua arah) dan komunikasi audiovisual) di dalam mencoba untuk mengidentifikasi segi pandangan mereka dengan apa yang menyangkut pada orang kebanyakan.
14. Testimonial (kesaksian): Kesaksian adalah kutipan, di dalam atau di luar dari konteks, terutama dikutip untuk mendukung atau menolak kebijakan tertentu, tindakan, program, atau kepribadian. Reputasi atau peran ( ahli, menghormati figur publik, dll.) tentang individu memberi sebagai statemen sangat dimanfaatkan. Kesaksian menempatkan sanksi pejabat seorang otoritas atau orang terhormat pada suatu pesan propaganda. Ini dilakukan dalam suatu usaha untuk menyebabkan target pendengar untuk mengidentifikasi sendiri dengan otoritas atau untuk menerima dan mempercayai opini dari otoritas.
15. Name-Calling (umpatan) adalah menjuluki atau menjelek-jelekkan seseorang atau gagasan. Pernyataan yang bernada menjelek-jelekkan atau menyerang lawan dengan cara memberikan sebutan-sebutan yang berkonotasi negatif dapat mengindentifikasi adnya penggunaan teknik ini.
16. Scapegoating(Kambing hitam):memberikan kesalahan kepada seseorang atau sekelompok orang yang tidak bersalah (bukan seseorang yang seharusnya bertanggungjawab)
17. Virtue Words (kebaikan Kata-Kata): Ini adalah kata-kata di dalam sistem nilai dari target pendengar yang cenderung untuk menghasilkan suatu bayangan positip ketika terkait dengan seseorang atau isu tertentu. Damai, kebahagiaan, keamanan, kepemimpinan bijaksana, kebebasan, dan lain lain adalah kata-kata kebaikan
18. Semboyan: Suatu semboyan adalah kalimat untuk memberikan suatu ungkapan meliputi pemberian label dan atau steriotipe.
19. (Unstated Assumption) Asumsi yang tidak dinyatakan: Teknik ini digunakan dalam konsep propaganda ketika propagandis ingin menyebarkan akan nampak kurang nampak terpercaya jika secara terang-terangan dinyatakan. Hal tersebut akan berulangkali dijelaskan dan diperlihatkan. pasar Populasi kebanyakan disebarkan dengan jalan ini.beberapa orang datang dan mengatakan pasar harus demokrasi, tetapi sebagian besar berkata tentang seberapa besar keefektifan pasar tersebut bagaimana hal tersebut kemudian mengurangi cara lama, dll.
20. Falsifing informasi (kesalahan informasi): pemusnahan atau penciptaan informasi dari arsip publik, dengan tujuan pembuatan suatu record/ catatan yang salah/palsu dari suatu peristiwa atau tindakan seseorang selama sesi pengadilan, atau mungkin dalam suatu pertempuran.
21. Euphoria: Penggunaan dari suatu peristiwa yang menghasilkan euforia atau kebahagiaan berlebihan sebagai pengganti penyebaran kesedihan berlebihan, atau penggunaan suatu peristiwa yang baik untuk mencoba menutupi yang lain. Atau menciptakan suatu peristiwa perayaan dengan harapan dapat mendorong moril. Euforia dapat digunakan untuk mengambil pikiran seseorang dari suatu perasaan lebih buruk. contohnya suatu liburan atau pawai.

Penutup
Menurut filsafat Eksistensialis Jean Jaques Sartre, dalam hubungan antar personal tidak terlepas dari hubungan kekuasaan dimana salah satunya menjadi subjek dan yang lainnya menjadi objek. Begitu pula dalam komunikasi, tidak terlepas dari unsur kekuasaan (power). Di alam demokrasi ini Derida, seorang filusuf multikulturalisme mengatakan bahwa ketika tulisan dipublikasikan hal tersebut menjadi wacana yang bebas untuk ditafsirkan. Kekuasaan memegang peranan yang digunakan dalam mengrahkan perspektif seseorang atau sekelompok orang untuk menyetujui, menerima atau menolak wacana dari suatu penafsiran tertentu. Cara yang paling efektif digunakan untuk mencapai hal tersebut adalah propaganda, suatu cara yang disetujui oleh masyarakat demokrasi karena propaganda tak lain adalan senjata demokrasi.

Depok, 2006

Indah Survyana

——————-
1. Disampaikan dalam Training Sospol Senat FIK UI, 13 mei 2006
2. Combs, James Eden dan Don Nimmo. Propaganda Baru : Kediktaktoran perundingan masa kini. Bandung : PT Remaja Rosdakarja, 1994.
3. Sastropoetro, R A Santoso. Propaganda : Salah satu bentuk komunikasi massa. (cet.III).Bandung: alumni,1991)
4. Mulyana, Dedy. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2001.hal.135-141
5. http://www.wikipedia.com, di download tanggal 16 April 2006
6. Snow, Nancy. Propaganda,Inc. Jakarta : opini, 2003. hal.50
7. Snow, Nancy. Propaganda,Inc. Jakarta : opini, 2003. hal.44
8. http://www.wikipedia.com, di download tanggal 16 April 2006

Written by CODEX2000

3 Desember 2009 pada 06:49

Ditulis dalam Artikel

Tagged with , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: