CODEX2000

Saksi Menepuk Angin

leave a comment »

Polisi menjadikan BAP Ary Muladi menjerat Bibit dan Candra. Ary sudah mencabut BAP itu.

ari muladi

Suaranya pelan, sedikit bergetar. ”Setiap hari anak istri saya dikuntit.” Rumah di datangi orang-orang misterius. Kepada Satpam mereka bertanya ini-itu. Lalu pergi tanpa mengenalkan diri.

Tetangga di sebelah rumah juga berkisah tentang orang-orang misterius itu. Suatu ketika sang tentangga didatangi orang yang mengaku polisi dari Bintaro,Tanggerang, Banten.

Sama seperti tamu yang menghampiri sang Satpam, si “polisi” itu juga bertanya ini-itu tentang dirinya. Aksi para penguntit, orang-orang misterius yang mendatangi rumah membuat hidupnya dirundung resah. “Ini saya sebut sebagai ancaman,”katanya.

Pria yang merasa hidupnya terancam itu adalah Ary Muladi, salah satu tokoh sentral dalam kasus dugaan penyuapan terhadap pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Didampingi sejumlah kuasa hukum, pria kelahiran Surabaya ini memberi keterangan kepada Tim 8, di gedung Watimpres, Jakarta Pusat, Sabtu 7 November 2009.

Semenjak dua petinggi KPK, Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah jadi tersangka, kontroversi terus merebak. Publik menilai ada rekayasa yang kuat untuk mendudukkan dua tersangka itu dikursi tersangka.

Di tengah kontroversi itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk Tim 8. Tim ini bertugas menyelidiki ada tidaknya rekayasa itu. Sejumlah petinggi kepolisian, kejaksaan, dua tersangka dan sejumlah orang yang tersangkut kasus ini dipanggil tim itu. Ary dipanggil hari Sabtu itu.

Kepada wartawan usai bertemu tim itu. Ary menegaskan bahwa, “Saya tidak pernah bertemu dan tidak pernah memberi uang kepada petinggi KPK.” Dia juga memastikan bahwa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang menerangkan bahwa dirinya memberi uang kepada petinggi KPK, sudah dicabut.

Siaran pers Ary Muladi ini jelas membantah semua apa yang disampaikan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso dalam pertemuan dengan Komisi Hukum di Senayan, Kamis 5 November 2009.

*****
Berlangsung sekitar 7,5 jam, pertemuan di Senayan itu menguras perhatian publik. Disiarkan langsung sejumlah stasiun televisi.
Hendarso menuturkan bahwa kasus ini bermula dari penyidikan KPK atas kasus suap alih fungsi hutan lindung Pantai Air Telang di Tanjung Api-Api.Tersangka kasus ini adalah sejumlah anggota DPR dari komisi kehutanan.

Ketika menyelidiki kasus ini, penyidik menemukan dokumen tentang pengadaan sistem komunikasi radio terpadu di Departemen Kehutanan. Para penyidik kemudian menggeledah kantor PT Masaro Radiokom.

Para penyidik menemukan bukti bahwa bos PT Masaro, Anggoro Widjojo telah menyuap pejabat Dephut dan Yusuf Erwin Faishal, mantan Ketua Komisi Kehutanan DPR.

“Penyidikan terus berlangsung dan bahkan Sarjan Taher dan Yusuf Erwin Faishal sudah dipidana, sedangkan pemberi suap Anggoro Widjojo baru ditetapkan sebagai tersangka pada 19 Juni 2009,” kata Bambang Hendarso.

Rentang waktu yang jauh antara vonis atas Yusuf Erwin Faishal dan penetapan tersangka atas Anggoro itulah, kata Hendarso, menimbulkan sak wasangka.

Sak wasangka itu diperkuat kesaksian Antasari Azhar. Mantan ketua KPK itu sudah meringkuk ditahanan karena kasus pembunuhan. Menurut Bambang Hendarso, Antasari mendapat informasi adanya pemerasan dalam perkara ini.

“Atas dasar informasi itu, Antasari bertemu dengan Anggoro di Singapura dan merekam informasi dari Anggoro,” kata Bambang Hendarso. Dari dalam penjara polisi itu, Antasari lalu menuliskan testimoni. Menurut polisi, Antasari juga melapor ke polisi 6 Juli 2009.

Setelah menerima laporan itu, polisi memeriksa sejumlah orang. Selain Antasari yang sudah diperiksa adalah Eddy Sumarsono, orang yang mempertemukan Antasari dengan Anggoro.

Bambang Hendarso mengaku bahwa polisi telah memeriksa Anggoro Widjojo di Singapura pada 10 Juli 2009. Pemeriksaan dilakukan di KBRI di Singapura. “Benar kalau Pak Susno juga pergi ke Singapura untuk memeriksa Anggoro,” jelasnya.

Kepada Susno, Anggoro mengaku telah memberi Rp 6 miliar kepada oknum KPK. Mereka adalah AR, BW, dan MJ. Uang itu diserahkan melalui Anggodo dan Ary Muladi. Tujuannya kasus Masaro lekas beres.

Para penyidik kemudian memeriksa Anggodo Widjojo, adik kandung Anggoro. Anggodo mengakui telah dititipi uang oleh kakaknya untuk diserahkan kepada oknum KPK melalui AR. “Uang itu ada yang rupiah dan ada yang dolar,” jelasnya. Polisi kemudian memanggil Ary Muladi.

Menurut Bambang Hendarso, dalam testimoni yang ditulis pada 20 Agustus 2009, Ary mengakui telah menerima uang dari Anggodo Rp 3,5 miliar. Uang itu cair tiga kali. Bentuknya dollar dan rupiah. Uang diserahkan di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat.

Sesudah menerima uang itu, Ary mengakui bertemu AR di Bellagio tanggal 12 Agustus 2008 pukul 18.30. Di situ dia menyerahkan uang sejumlah Rp 1 miliar. Pada hari yang sama menyerahkan uang kepada uang kepada anggota KPK berinisial MJ.

Beberapa hari berselang, kata Hendaro, Ary bertemu dengan AR dari KPK dan menyerahkan uang sejumlah Rp 1 miliar. Ary sempat melihat AR mengeser tas uang itu dengan kaki kepada rekannya bernama BW.

Masih menurut pengakuan Ary, pada 18 Agustus 2008, oknum KPK AR menyuruh seseorang bertemu dengan Ary di Pasar Festival, Kuningan. Ary kemudian menyerahkan Rp 250 juta. Kabarnya uang itu dimaksudkan untuk media massa.

Pemberian uang berlanjut pada 13 November 2008. Ary mengaku menyerahkan Rp 400 juta kepada orang yang datang bersama AR. Uang itu untuk para penyidik yang mengusut kasus PT Masaro.

Pada 15 April 2009, Ary mengaku kembali memberikan uang kepada oknum KPK berinisial CH. Uang diberiksan di mobil Innova. Oknum CH ini datang dengan AR.

Selain keterangan Ary Muladi itu, Bambang Hendarso mengaku sudah mengantongi sejumlah alat bukti. Alat bukti itu berupa rekaman percakapan antara Ary Muladi dengan oknum KPK berinisial AR itu.

Bukti lain yang dikantongi polisi adalah buku tamu di KPK. Dalam buku tamu itu terlihat Ary Muladi datang ke KPK dan bertemu dengan seseorang. Dan berdasarkan sejumlah bukti itulah polisi menetapkan Bibit dan Chandra sebagai tersangka

*****

Bibit dan Chandra membantah keras tuduhan itu. Pada tanggal-tanggal yang dituduhkan polisi itu, Bibit memang sedang berada di Peru. Dia menunjukan sejumlah bukti berupa paspor dan visa. “Saya memiliki bukti surat jalan dari KPK bahwa saya saat itu berada di Peru,” kata Bibit.

Bibit juga tidak pernah bertemu dengan Ary Muladi. Apalagi menerima uang darinya. “Saya tidak pernah menerima uang baik langsung atau tidak langsung dari Ary Muladi, Yulianto, atapun dari orang yang akan dimunculkan lagi dalam kasus Anggoro,” kata Bibit.

Chandra juga membantah mengenal Ary Muladi, apalagi bertemu, apalagi menerima uang. Alexander Lay, kuasa hukum Chandra, menegaskan bahwa bahwa pada 15 April 2009 kliennya tidak berada di Pasar Festival. “Kita tidak akan kasih tahu keberadaan Pak Chandra saat itu sampai di pengadilan,” ujarnya.

Bantahan Bibit dan Chandra itu belakangan kian kuat setelah Ary Muladi mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sebelumnya. Dia menegaskan bahwa dirinya tidak kenal, tidak pernah bertemu dan tidak pernah memberi uang kepada Bibit dan Chandra.

Dia juga membantah bahwa dirinya bertemu dengan AR di Bellagio. Menurut Ary, pengakuan di BAP itu semata-mata dilakukan untuk memperkuat testimoni yang disusun Anggodo pada 15 Juni 2009.

Testimoni Anggodo itu sama dengan keterangan Ary yang sudah dicabut itu.”Saya lakukan itu semata-mata karena ingin menolong teman saya bernama Anggodo,” kata Ary.

Tapi setelah menolong Anggodo, Ary justru merasa tersiksa. “Saya tidak bisa tidur tiga malam,” katanya. Dia tersiksa karena merasa bersalah sudah menjebloskan Bibit dan Chandra ke kamar tahanan.
Lalu ke mana Ary memberi uang itu. Semua uang, katanya, diberikan kepada seorang kawan lamanya bernama Yulianto. Dari Yulianto ini uang akan dikirim ke KPK. Di mana Yulianto itu? Tidak jelas memang.
Ary mengaku sudah mengenalnya semenjak 11 tahun lampau. Yulianto itu tinggal di perumahan Dharma Husada di Surabaya. Repotnya, Ary sendiri mengaku kesulitan menghubungi Yulianto itu. “Saya kan ngga bisa keluar kota. Tugas polisi mencarinya,” kata Ary.
Ary mengaku bisa membantu polisi mengambarkan wajah dan jatidiri Yulianto itu.

Kini dalam penampilannya di depan media, Ary berkali-kali meminta maaf kepada Bibit dan Chandra. Dengan permintaann maaf itu, dia mengaku merasa lega.

Selamat dari merasa bersalah, kehidupan Ary berpindah ke ancaman lain. Orang-orang yang terus menguntit anak-istrinya dan tamu misterius yang datang ke rumahnya. Selain ancaman itu, Ary juga mengaku kerap dibujuk rayu,” Jika kembali ke BAP pertama, besok bebas,” katanya menirukan kata-kata si perayu.
• VIVAnews

Written by CODEX2000

10 November 2009 pada 06:27

Ditulis dalam Top Berita

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: