CODEX2000

Munas Golkar: Lonceng Kematian atau Lonceng Kebangkitan?

leave a comment »

Partai Golkar, saat ini di Pekanbaru sedang menyelenggarakan Musyawaran Nasional, untuk memilih Ketua Umum baru. Mampukah Golkar memilih Ketua Umum yang berhaluan baru?

Berikut penjelasan Eep Saefullah Fatah, pengamat politik dari Universitas Indonesia di Jakarta, pada Radio Nederland Wereldomroep, pertama-tama mengenai tokoh-tokoh yang mencalonkan diri untuk jabatan tersebut dan siapa yang paling berpeluang:

Dari bawah
Eep Saefullah Fatah [ESF]: Sejauh ini kan ada lima orang yang disebut sebagai kandidat. Yang pertama adalah Surya Paloh, sekarang menjadi Ketua Dewan Penasihat DPP Golkar. Lalu kemudian, Aburizal Bakrie, Anggota Dewan Penasihat. Lalu, Yuddy Chrisnandi, pengurus di DPP Golkar yang sekarang. Ferry Mursyidan Baldan, juga pengurus. Dan satu lagi, yang baru belakangan masuk adalah Tommy Soeharto.

Kalau saya ditanya, di antara ke lima kandidat itu, manakah yang paling punya peluang untuk bisa memenangkan jabatan Ketua Umum Partai Golkar 2009- 2014, kalau dilihat dari berbagai fakta politik yang berkembang belakangan, kelihatannya memang yang paling kuat adalah Pak Surya Paloh dan Pak Aburizal Bakrie. Surya Paloh dan Aburizal Bakrie bersaing untuk menjadi Ketua Umum yang akan datang.

Ada perbedaan mendasar di antara keduanya dalam penggalangan dukungan, saya lihat. Pak Surya Paloh itu sejak awal memang mengkonsentrasikan diri dari bawah, dengan menggalang DPD kabupaten dan kota, di berbagai daerah di Indonesia. Pak Aburizal Bakrie kelihatan dari atas. Menggalang propinsi dulu, baru kemudian, belakangan, ketika Surya Paloh berhasil menggarap banyak sekali dukungan DPD kabupaten kota, Aburizal Bakrie turun. Nah, kalau dilihat dari struktur dukungan DPD yang sekarang terdata, ya kelihatannya sih memang, calon yang paling kuat, sampai sejauh ini adalah Surya Paloh.

Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Pak Eep, Golkar itu sudah sekian lama jadi partai pemerintah. Apakah di kalangan Golkar tidak ada pikiran-pikiran, untuk mereka sementara waktu jadi partai oposisi begitu?

Dikendalikan pemerintah
ESF: Yah, sebetulnya, yang pertama harus kita klarifikasi adalah, apakah benar Golkar partai pemerintah. Atau pun partai yang memerintah. Sesungguhnya, yang terjadi, di masa Orde Baru misalnya, Golkar adalah partai yang dikendalikan oleh pemerintah. Karena, semenjak Munas II Golkar, bulan Oktober 1978, yang diadakan di Denpasar, organ paling pokok Golkar adalah Dewan Pembina. Terutama Ketua Dewan Pembina. Yang sampai dengan tahun 1998 dijabat oleh Soeharto.

Jadi, semenjak tahun 1978, pengendali terpokok Golkar sebetulnya adalah Ketua Dewan Pembina Golkar. Yang bisa membubarkan DPP. Yang bisa membatalkan keputusan-keputusan DPP. Yang bisa mengganti orang-orang DPP, jika dianggap mereka tidak sejalan dengan garis organisasi. Jadi, semenjak tahun 1978, grafik kekuasaan Soeharto menaik terus. Sementara grafik kekuasaan Golkar yang sesungguhnya, menurun. Dan kemudian bertahan sebagai instrumen atau alat Soeharto.

Kemudian, yang kita lihat setelah itu, di masa reformasi, Golkar memang selalu terlibat di dalam pemerintahan. Dalam pemerintahan yang pertama, selepas Soeharto, pemerintahan Habibie, tentu saja orang Golkar. Dominan ya. Di sana kan Habibie bagaimana pun, dari Golkar. Lalu kemudian di masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, juga Golkar terlibat. Di masa Megawati pun demikian. Di masa SBY, hanya sebentar saja Golkar berada di luar kekuasaan. Tetapi, segera setelah jabatan Ketua Umum direbut oleh Jusuf Kalla, dari tangan Akbar Tanjung, Golkar berpindah haluan, menjadi penyokong pemerintah.

Sangat terpuruk
Menurut saya, sebetulnya sekarang ini kebutuhan Golkar bukan dalam definisi hitam putih. Memerintah atau beroposisi. Menurut saya, kebutuhan Golkar sekarang adalah menyadari betapa mereka sangat terpuruk. Sekarang, dua kali pemilu terakhir, 2004 2009, grafik mereka itu terus menurun. Degradasi. Dan kalau mereka tidak melakukan pembalikan, kalau mereka tidak melakukan pembaharuan yang sungguh-sungguh, mereka akan terlindas oleh sejarah. Mereka akan punah ya.

RNW: Pak Eep, meskipun jumlah suara dalam pemilu jauh menurun, tapi Golkar masih tetap partai besar, bagaimana anda menerangkan hal ini? Padahal, kebobrokan Golkar, kebobrokan Orde Baru, selama masa reformasi ini makin banyak terbongkar?

Sumber : rnw

Written by CODEX2000

6 Oktober 2009 pada 13:48

Ditulis dalam Artikel

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: