CODEX2000

Ambisi Belanda di G20

leave a comment »

Belanda untuk ketiga kalinya ikut menghadiri pertemuan G20, yang kali ini digelar di Pittsburgh, Amerika Serikat. Padahal Belanda bukan anggota.

Mengapa Perdana Menteri Jan Peter Balkenende berulang kali diundang turut dalam pembicaraan? Ia boleh duduk bersama pemimpin dunia seperti Barack Obama, Hu Jintao, Gordon Brown dan Luis Inácio Lula da Silva.

Belanda memang dari segi pemasukan negara ada di peringkat ke-16 dari daftar Dana Moneter Internasional IMF. Tetapi secara resmi bukan anggota dari G20. Begitu pula negara Eropa lain Spanyol, yang berada di peringkat ke 9 atau Belgia yang berada di peringkat ke-20.

Wibawa
Pendapatan kotor nasional bukan satu-satunya kriteria untuk menjadi anggota G20. Klub bergengsi ini juga melihat pada letak geografis sebuah negara dan kekuatan ekonomi mereka secara luas.

Karena itu tidak mengherankan apabila Den Haag menggunakan kekauatan finansialnya yang relatif besar, nomor sembila di dunia , dan suara mereka yang cukup berbobot dalam organisasi seperti IMF dan Bank Dunia.

Tetapi argumen-argumen itu tidak mendapat tanggapan berarti, demikian guru besar ekonomi dan mantan penasihat Bank Dunia Sweder van Wijnbergen. Ia malah menekankan bahwa dunia justru sedang mendiskusikan posisi negara-negara berkekuatan finansial seperti Belanda dalam IMF dan Bank Dunia. Kekuasaan mereka akan dibatasi apalagi kalau Cina menempati posisi yang lebih kuat.

Hobby
Sweder van Wijnbergen berpendapat keikutsertaan Belanda dalam pertemuan G20 sedikit sekali gunanya. Menurutnya ini lebih merupakan hobby pribadi Perdana Menteri Jan Peter Balkenende.

“Ini sebenarnya bukan keistimewaan besar. Kami tidak berperan besar di situ. Tapi itu memang kegiatan utama Balkenende. Ia tidak banyak berbuat selain melobi untuk mendapatkan undangan-undangan macam ini. Ia memang suka itu.”

Negara-negara A dan B
Yang menarik dalam hal ini adalah instruksi Perdana Menteri Inggris Gordon Brown kepada para pegawainya yang bocor, sehubungan perencanaan KTT G20 di London, akhir April lalu. Ada dua daftar yang beredar, apa yang dinamakan Negara A dan Negara B.

Negara A adalah anggota yang pasti akan hadir di London, menurut Brown. Nama Belanda tidak tertera di satu pun daftar tersebut.

Mantan guru besar ekonomi Jaap van Duijn lebih positif. Ia menekankan bahwa Belanda termasuk sepuluh negara pengekspor terbesar di dunia. Tetapi ditambahkannya, keanggotaan G20 lebih pada wibawa politik sebuah negara, dan apakah Belanda bisa mempengaruhi hasil pembicaraan KTT tersebut.

Sehubungan dengan ini, maka harian bergengsi Financial Times menyatakan, kebijakan yang dilakukan Belanda untuk mengendalikan pemberian bonus luar biasa di lingkungan perbankan, bisa menjadi contoh dalam diskusi G20 mengenai masalah ini.

Bukan cerita sesungguhnya
Tapi juga di sini Sweder banyak mengkritik peran pelopor Belanda.

“Kami bahkan bisa dikatakan tertinggal. Kode bank itu tidak lebih dari cerita semu saja. Kode itu hanya berlaku bagi Dewan Pengurus. Padahal kerugian besar justru terjadi di tingkat bawah. Selain itu tidak banyak kesepakatan yang mengikat. Ini tidak lain dari upaya efektif menangkis pelbagai peraturan dengan berbuat seminim mungkin. Jadi ini bukan sesuatu yang patut disebut pelopor.”

Bonus maksimal yang ditetapkan bank-bank Belanda, memang tidak berlaku bagi ‘para pedagang’ di tingkat atas. Tapi justru mereka itulah yang di luar pantauan majikan mengambil resiko terlalu besar karena digoda bonus-bonus tinggi.

Kendati semua perjanjian, bank-bank Belanda di tahun 2008, tetap memberikan bonus. Tapi, juga dalam hal ini pakar ekonomi Van Duijn bersikap lebih lunak.

“Perlu diambil langkah. Dengan memberlakukan peraturan ketat, ada resiko peraturan itu justru diusahakan dihindari dengan memberikan istilah lain untuk bonus atau ‘hadiah variabel’

Afghanistan
Kedua pakar ekonomi ini sama-sama cemas G20 akan bisa menjadi rapat semrawut, kalau semakin banyak negara seperti Belanda, ingin bergabung.

Mungkinkah undangan G20 dari Obama untuk Balkenende lebih berkat keterlibatan aktif Belanda di Afghanistan? Bukankah Menteri Luar Negeri Maxime Verhagen yang menginginkan kelanjutan misi di Afghanistan sehingga bisa tetap mempunyai pengaruh dalam urusan-urusan internasional?

Menurut Sweder van Wijnbergen ini tanggapan sangat sinis.

“Ini berarti anda membiarkan orang mati, hanya untuk untuk kadangkala bisa menghadiri rapat. Saya tidak yakin orang yang gugur di sana atau sanak keluarga mereka akan senang dengan itu.”

Bagaimana pun juga, Balkenende kembali hadir dalam pertemuan di Pittsburg.

Sumber :  rnw

Written by CODEX2000

27 September 2009 pada 05:36

Ditulis dalam Analisis

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: