CODEX2000

Sampah Membawa Berkah

leave a comment »

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Batam pada 1994, belum terpikirkan oleh seorang Sujak Widodo untuk menjadi seorang pengusaha. Berbekal uang Rp7.500 pada waktu itu, dia nekat mengadu peruntungannya di pulau ini.

Karena merasa punya keahlian mengutak atik kendaraan bermotor, dia pun bekerja di sebuah bengkel di kawasan Bengkong. Di bengkel itu, spesialisasinya dalam pengecatan kendaraan pun makin terasah.

Dua tahun berstatus karyawan membuatnya gerah dan berpikir untuk membangun usaha sendiri. Pada 1996, bersama seorang teman, dia membangun sebuah bengkel cat mobil yang waktu itu sempat berkembang menjadi tiga cabang.

Namun karena masalah internal, akhirnya arek Surabaya itu memberanikan mendirikan unit usahanya dengan modal sendiri dan terkenal dengan nama Sujak Motor, sebuah bengkel pengecatan mobil, yang mengambil lokasi di sebuah kawasan industri di Batu Ampar.

Membesarkan usaha sendiri tentunya membutuhkan kemampuan dan keuletan bagi seorang Sujak. Dia yang berpendidikan rendah merasa terpacu untuk mengembangkan diri dengan ilmu yang didapatkan dari membaca buku-buku manajemen dari negara industri seperti Jepang.

“Filosofi manajemen Jepang itu adalah selalu fokus dalam bekerja sehingga tujuan cepat tercapai, selain itu modal nekat juga penting,” ujarnya.

Kekagumannya terhadap budaya Jepang itulah yang mengantarkannya datang ke negeri Matahari Terbit pada 1999 dan melihat langsung kehidupan keseharian masyarakat di sana.

Terus mengembangkan diri dan usahanya membawa Sujak pada sebuah kesimpulan yang dia dapat dari beragam literatur, yaitu mempersiapkan usaha baru menjelang 10 tahun usia usaha pertamanya.

“Saya berkesimpulan dalam rentang waktu 10 tahun, usaha yang saya kembangkan dulu akan mengalami penurunan. Oleh sebab itu, saya harus mulai memikirkan diversifikasi usaha,” tuturnya.

Dia beralasan usaha pengecatan mobil di Batam akan merosot karena berbagai faktor seperti kebijakan pemerintah soal impor otomotif dan lainnya. Atas dasar itulah, perlahan-lahan dia mulai menjajaki peluang usaha baru yang selama ini belum terpikirkan oleh orang lain.

Beralih usaha

Pilihannya jatuh pada sampah. Kebetulan, pada saat bersamaan, pengelolaan sampah oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Batam masuk pada fase mengkhawatirkan sehingga dibutuhkan manajemen pengelolaan yang terintegrasi.

Pada 2006, Sujak mulai serius menangani sampah di kota ini karena dia melihat banyak peluang yang bisa digarap menjadi uang di dalam tumpukan sampah yang menggunung di Tempat Penimpunan Sampah (TPA) Telaga Punggur.

Masuk dengan membawa bendera konsorsium PT Surya Sentratama Sejahtera, dia membantu dinas terkait membenahi pengelolaan sampah Batam dengan serangkaian program yang lebih terfokus dan terintegrasi.

Kehadiran PT Surya pun berdampak positif dengan keberhasilan Batam memperoleh Piala Adipura pada 2006. Keberhasilan ini terus berlanjut pada 2007, 2008, dan 2009. Pada saat 2008 dan 2009, PT Surya sudah resmi memenangi tender dan menjadi pengelola penuh TPA Telaga Punggur.

“Kami ingin menjadikan TPA Telaga Punggur sebagai TPA terbaik di Indonesia dengan pola pengelolaan sampah terintegrasi dari hulu ke hilir,” papar Sujak.

Dari hulu, dia menyiapkan pola pengangkutan, pemungutan, dan pembuangan sampah hingga ke TPA, dan di hilir, dia mencoba mengembangkan potensi pupuk cair, kompos, dan gas metana, dan lainnya.

Dengan total investasi yang mencapai Rp539 miliar, dia bercita-cita mengubah areal 46 hektar TPA Punggur menjadi areal penampungan sampah yang hijau dan berdaya guna secara ekonomi.

Pada tahun ke-3 pengelolaan, PT Surya menargetkan pembangunan sebuah pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) kapasitas 15 MW berbahan gas metan dari sampah. Selanjutnya juga akan didirikan sebuah unit pengolahan pupuk cair dan kompos.

Langkah ekstrem Sujak untuk beralih dari lumuran cat mobil ke pengelolaan sampah memang tidak mudah. Dia harus berpikir cerdik untuk menjalin relasi dengan para petinggi kota ini sehingga mendapat prioritas nomor satu dalam pengelolaan.

Kini, walaupun TPA itu belum memulai produksi gas metan dan pupuk cair, tapi selama setahun terakhir pengelolaan sampah kota Batam sudah mulai membaik. Terbukti, empat kali penghargaan Adipura berhasil diraih kota ini dan TPA Punggur memberikan kontribusi poin tertinggi dibandingkan TPA lainnya di Indonesia.

Insfirasi Negeri 2009

Written by CODEX2000

26 September 2009 pada 11:35

Ditulis dalam Bisnis

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: