CODEX2000

Entrepreneurship Menjadi sebuah revolusi bangsa Dr. Ir. Ciputra

with 4 comments

Dr. Ir. Ciputra

Tulisan Tarun Khanna The Jorge Paulo Lemann Professor di Harvard Business School dalam buku Billions of Entrepreneurs menjelaskan dengan gamblang bagaimana bermiliar-miliar entrepreneur di China dan India menjadi sebuah kekuatan luar biasa mendorong laju ekonomi dan sekaligus mendistribusikan kesejahteraan kepada rakyat di dua negara besar itu.

Ini makin meneguhkan keyakinan saya pada betapa pentingnya membangun jiwa entrepreneurship dalam sebuah negara.

Kecakapan entrepreneurship yang tumbuh merata di berbagai kalangan masyarakat akan memberdayakan masyarakat untuk mampu menciptakan pekerjaan bagi diri mereka sendiri dengan cara ini masyarakat sendiri yang menjadi solusi bagi masalah pengangguran dan kemiskinan.

Oleh karena itu adalah tugas Pemerintah untuk mendidik dan memfasilitasi warganya untuk mampu berentrepreneur sehingga rakyat bisa menyelesaikan sendiri masalah lapangan pekerjaan.

Adalah sangat menyedihkan bila mengingat saat ini jumlah entrepreneur di Indonesia yang inovatif diperkirakan baru sekitar 400.000 orang saja atau hanya 0,18% dari jumlah penduduk Indonesia. Padahal menurut David McClelland sebuah negara akan mencapai kemakmuran bila terdapat sedikitnya 2% dari populasi bangsa negara itu menjadi entrepreneur.

Dalam buku Quantum Leap (Dr.Ir.Ciputra, Elex Media Komputindo, 2008) kami menggagas dan mendiskusikan lebih mendalam tentang solusi mengatasi pengangguran dan kemiskinan, serta meningkatkan kesejahteraan bangsa melalui entrepreneurship. Ini menunjukkan dengan jelas adanya urgensi untuk menciptakan lebih banyak entrepreneur di Indonesia.

Berbeda dengan rakyat China dan India yang telah memiliki tradisi berniaga atau budaya entrepreneurship sudah merupakan bagian dari budaya masyarakat maka di banyak daerah di Indonesia entrepreneurship adalah sesuatu yang asing dan bahkan tidak mendapatkan tempat terhormat di masyarakat.

Oleh karena itu menjadikan pendidikan entrepreneurship sejak dini sebagai bagian dari strategi nasional untuk melawan pengangguran, kemiskinan dan membangun kesejahteraan merupakan sebuah revolusi yang akan mengubah masa depan bangsa.

Setidaknya saya memiliki 5 alasan kenapa kita bersama harus membangun budaya entrepreneurship dan memperkaya kurikulum pendidikan nasional yang ada dengan entrepreneurship sesegera mungkin.

Pertama, kekayaan alam dan budaya Indonesia yang melimpah ruah dari Sabang sampai Merauke masih belum tersentuh dengan entrepreneurship dan seandainya sudah menjadi bagian perniagaan dunia nilai tambah yang dihasilkan di Indonesia masih terlalu kecil dibandingkan dengan pembelinya dari luar negeri.

Sebagai contoh kita mengekspor daun-daunan dan akar-akaran namun kemudian itu dikembangkan jadi parfum di negara lain dengan nilai tambah yang jauh berlipat-lipat sedangkan petani Indonesia hanya menerima sedikit saja.

Keragaman hayati dan keindahan ragam budaya Indonesia adalah anugerah Tuhan yang harus kita olah lagi menjadi kesejahteraan bagi rakyat Indonesia namun itu tidak akan terjadi bila entrepreneurship bukan merupakan budaya dan kecakapan yang dimiliki oleh anak bangsa.

Suatu kali kekayaan alam kita tidak bisa kita andalkan lagi dan dengan berjalannya waktu penduduk Indonesia juga makin bertambah sehingga beban pemerintah mengurangi kemiskinan pasti akan makin besar.

Adakah cara lain yang lebih bijaksana selain mulai sekarang dana yang ada digunakan untuk mempersiapkan generasi yang akan datang untuk mampu memiliki kecakapan menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri sehingga tidak perlu jadi orang miskin yang baru?

Kedua, banyak anak-anak Indonesia di bangku sekolah asing dengan entrepreneurship padahal kecakapan ini sangat penting di abad 21.

Nicholas Negroponte seorang profesor dari MIT, penggagas One Child One Laptop dalam buku Being Digital mengatakan: Pada tahun 2020 kebanyakan atasan di negara maju adalah “diri sendiri” dengan kata lain kebanyakan peluang kerja adalah menjadi entrepreneur.

Saya prihatin dengan kondisi anak-anak Indonesia yang tidak bersentuhan dengan entrepreneurship sejak dini termasuk mereka yang dilahirkan di keluarga entrepreneur dan profesional bisnis. Dunia bisnis modern telah berhasil memisahkan antara tempat bekerja dan tempat tinggal.

Sehingga apa yang terjadi di tempat kerja orang tua anak-anak atau lingkungan bisnis tidak menjadi pengalaman masa kecil dari anak-anak mereka. Ini berbeda dengan masa kecil saya tempat kerja kami sama dengan tempat tinggal, artinya setiap hari sejak kanak-kanak saya terbiasa dengan lingkungan bisnis.

Saya dilahirkan ditengah barang dagangan, dibesarkan diantara barang dagangan, bertumbuh di tengah budaya dan lingkungan perdagangan yang kental. Anak-anak entrepreneur sekarang banyak yang tidak melihat lagi bagaimana ayah dan ibu berpeluh mencari pelanggan dan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk kemajuan usaha.

Saya mengatakan bahwa: ”Our children miss the luxury of the suffering of their parents.” Saya ingin simpulkan menghadirkan entrepreneurship di sekolah kembali merupakan hal yang sangat penting.

Ketiga, anak-anak kita akan mengisi sebagian besar hidupnya di abad 21 yang sangat berbeda dengan abad sebelumnya. Abad 21 memperkenalkan kita dengan sebuah platform bisnis yang baru berdasarkan kemajuan teknologi yang sangat pesat misalnya teknologi informasi.

Kita sudah menyaksikan bagaimana teknologi-teknologi yang terbaru menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda kita. Namun saya saya ingin mengingatkan untuk dua hal ini.

Pertama, jangan hanya jadi konsumen teknologi baru namun jadilah pencipta teknologi baru. Jangan hanya jadi pelanggan Google, FaceBook atau BlackBerry namun ciptakan yang baru untuk dunia dari anak-anak ibu Pertiwi. Kedua, untuk menjadikan teknologi mampu menembus pasar dan diterima pasar kembali entrepreneurship memegang peran penting. Pasar tidak mencari teknologi baru tapi pasar mencari solusi baru yang lebih baik. Jembatan antara teknologi dan pasar itu bernama entrepreneurship sehingga kemudian kita kenal kata technopreneurship.

Keempat saya percaya bahwa semangat dan kecakapan entrepreneurship bukan saja berguna di dunia bisnis namun sangat berguna di lingkup kegiatan di luar bisnis.

Saya mendefinisikan kecakapan entrepreneurship adalah “kecakapan mengubah kotoran dan rongsokan jadi emas” atau kecakapan menciptakan nilai tambah secara dramatis dan kreatif sehingga pasar tidak mampu menolaknya.

Sebagai contoh, orang yang memiliki kecakapan ini bila berada di bisnis akan mengubah bisnis yang mundur jadi bisnis yang maju, kalau ia berada di pemerintahan akan mengubah kabupaten yang miskin menjadi kabupaten yang sejahtera, bila berada di sekolah akan mengubah sekolah yang kekurangan murid menjadi sekolah yang kebanjiran murid, bila berada dalam pelayanan sosial akan mengubah daerah kumuh (Kali Code contohnya) menjadi daerah yang bersih, sehat dan menarik.

Waktu saya mendapat kesempatan hadir di acara Kick Andy bebrapa waktu yang lalu saya ditanya oleh Saudara Andy F. Noya: ”Kalau semua orang jadi entrepreneur atau pemilik mall seperti Bapak maka siapa yang akan jadi konsumen mall?”.

Pertanyaan kritis dan sekaligus kreatif ini saya jawab dengan jurus yang sama: ”Kita semua waktu kecil belajar menyanyi namun tidak semua kita menjadi penyanyi bukan?”. Dengan demikian cukup masuk akal bukan belajar entepreneurship sejak dini bukan?

Kelima, perkembangan berbagai negara di dunia untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik telah mencelikkan mata saya bahwa kita sekarang sedang dalam perlombaan antar negara yang kelak nanti pialanya baru akan kita lihat di masa yang akan datang bukan dalam waktu dekat ini.

Perlombaan itu sedang terjadi di arena pendidikan karena apa yang sedang terjadi dalam dunia pendidikan sekarang menggambarkan apa yang akan terjadi dalam masyarakat kelak.

Saya tidak kaget ketika setelah saya menggagas Pendidikan Entrepreneurship di Indonesia para staff saya menyampaikan bahwa kebijakan pendidikan entrepreneurship dalam kurikulum nasional merupakan bagian dari kebijakan negara-negara maju misalnya di Uni Eropa.

Saya menggagas pendidikan entrepreneurship tanpa mengetahui hal tersebut sebelumnya, saya hanya merasa bahwa ini hal yang sangat penting dan menentukan bagi masa depan sebuah bangsa.

Namun saya menjadi cukup kaget ketika mengetahui bahwa Mozambik sebuah negara di bagian Timur Selatan benua Afrika dengan penduduk sekitar 21,8 juta dan GDP perkapita baru sekitar US$ 350 (bandingkan dengan Indonesia yang sekitar US$ 2.200). Pada tanggal 11 Juni 2007 bersama dengan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) bermitra dengan Pemerintah Norwegia meluncurkan program kurikulum entrepreneurship untuk murid sekolah menengah dan sekolah kejuruan di Mozambik.

Saya sungguh khawatir dengan masa depan generasi muda Indonesia bila kita tidak dengan segera memperkaya kurikulum nasional dengan entrepreneurship. Apakah kita harus lihat dulu TKW kita pergi ke Mozambik karena disana terdapat para pencipta kerja baru baru kita sadar pentingnya pendidikan entrepreneurship?

Saya sendiri di masa lalu pernah mengalami sebuah kehidupan yang barangkali dalam kategori sekarang masuk dalam kategori orang miskin namun kalau saat ini saya mencapai tingkat kesejahteraan yang jauh lebih baik dengan bersyukur kepada Tuhan saya mengatakan bahwa entrepreneurship adalah strategi kehidupan yang telah mengubahkan saya.

Saya berusaha mempromosikan entrepreneurship di Indonesia dengan harapan akan terjadi peningkatan kesejahteraan yang berarti di negara tercinta. Kita bersama bukan saja harus terus menerus meredam dampak kemiskinan namun kita harus berusaha mematahkan akar masalahnya secara drastis yaitu masalah lapangan pekerjaan, inilah revolusi entrepreneurship yang saya maksudkan.

Namun impian indah ini hanya mungkin tercapai kalau berbagai pihak yang saya sebut GABS (Government, Academician, Business & Society) bekerja sama membangun gerakan budaya entrepreneurship di Indonesia. Mari sekarang kita bergandeng tangan membangun entrepreneurship untuk Indonesia yang kita cintai bersama. Jangan kita tunda.

Insfirasi Negeri 2009

Written by CODEX2000

26 September 2009 pada 11:41

Ditulis dalam Artikel

Tagged with ,

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. saya sangat setuju dengan pendapat pak Ci , saat ini saya sedang menyelesaikan studi saya mengenai bagaimana me- motivasi saudara kita yang nota bene asli etnik papua , dari berbgai informasi yang saya peroleh pemerintah telah berusaha memberikan bantuan baikmodalmaupun pelatihan juga peralatan tetapi produktivitas mereka masih jauh dari yang diharapkan mohon saran dan masukan dari Bapak . Terimakasih

    ELLY NOER

    15 Juni 2011 at 20:06

  2. These are genuinely wonderful ideas in regarding blogging.
    You have touched some fastidious things here. Any way keep up wrinting.

    Lovie

    28 Desember 2012 at 17:03

  3. Thanks for any other wonderful post. The place else may just anyone
    get that type of information in such an ideal manner of writing?
    I’ve a presentation subsequent week, and I am on the search for such information.

    vibe chat

    4 April 2013 at 16:42

  4. terimakasii|

    mintak sedot yaa😉

    Juandi Kemosszt

    12 April 2013 at 20:50


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: